Posted by: TimRedaksi on: 12 December 2008

Oleh : Julaedi Akbar
“Aku percaya sejarah merupakan catatan dari rentetan perjalanan hidup manusia. Hata jangankan Adam, aku terlahir dari anak cucunya yang menyebut dirinya manusia wanita pun, itu sejarah. Sejarah aku………..Aku ada di muka bumu hingga kini aku tahu Kamu. Entah dari mana, aku cukup untuk yakini Mu. Tapi apa !, itu yang disebut sejarah. Potret tak jelas antara garis kanpas dan kuas kehidupan. Suara irama tak jauh beda dengan lantunan Asma Mu, mengabur dibalik aura para penari sur. Dan aku Kau janji mimpi. Dengan buai suci”.
Ia terdiam. jeda ketawa menguak suara lantang, ia pun kembli angkat bicara. “busetttt…..bulsit…aku percaya Kamu”.
Manusia tua itu memaki kearah bingkai kayu yang dipengang dengan kedua tangannya di pelataran toko kamboja itu. Bingkai tanpa kaca dan lukisan itu, kerap mainan lompat tali bagi tangan kanannya, sesekali tangan kanannya mengakar terkam ganas ketengah bingkai itu, tapi gak ada yang didapat, hanya tambunan kepalan jari-jarinya menyentuh lantai toko tua dijalan mawar ini.
Setiap orang yang berlalu lalang, memandangnya tanpa iba. Hanya rasa ketakutan yang menggerayangi ketika tepat di depannya. Baju necis gaya pengemis, kusut sana-sisni. Mengundang bisik tiap orang yang memandangi gerak-geriknya “ini orang gila atau cuman sinting alias gendeng”.
Suara raunganya membikin pengguna jalan buyar pontang-panting ketakutan.
“Nek…!!, napa ketawa, dan teriak busett…busett”. Tanya fit, bocah kecil usia lima tahun yang dilepas ibu muda dari genggamanya saat berpapasan dengan orang ini yang bersuara muda dengan wajah tua itu.
wajah muda ibu itu nampak lega, ekting berwajah pucat dengan mimic ketakutan berlagak gusar. Sana-sini cari bantuan orang bak muajin kumandangkan ajan. Tak lama semua orang pun berduyun-duyun kesumber suara tapi tak kuasa memberi bantuan hanya iba yang menghiasi suasana karena ketakutan mencekam diantara mereka.
Sementara nenek tua dengan aksi gemasnya menerkam erat tangan bocah itu dengan jari-jemari terlapisi kulit lembu. Ia nyaris mencari celah kabur membawa fitri, panggilan manis bocah itu.
Bocah masih bersih gak ngerti semua itu, senyumnya menyambar kerumunan masa sebagai isarat tingalkan jejak bahwa ia kini iku nenek tua pergi.
“ayo cucu ku kita pergi” bisik manis manusia berjubah dekil dengan wajah terlapisi topeng kulit keriput. Nampak waniata tua.
Sementara kerumunan masa terperangah bengong nenek pergi bagaikan kilat dengan langkah tegap dan menyelinap di balik toko tua itu. Ia tidak peduli tongkat kayu teman sejatinya rela ditinggali dipelataran toko kamboja itu. Belum lagi tingkah ibu bocah ini yang tak kuasa hanya bisa menangis tanpa aksi mengejar penuh naluri.
Seletah menghilang dibalik toko tua itu, baru semua gusar cari telpon, Hp, motor mobil dan alamat kantor polisi terdekat. Semua tersulap sudah.
Cerita dari mulut setia para kerumunan yang masih dilokasi menjadikan polisi hanya bengong bak tong sampah informasi. Masa pun terpaksa digubarin dengan alasan olah TKP. Cerita arul membuat mereka tertarik untuk tindak lanjuti. Dari kisah, arul mengamati aksi orang itu. Yang arul sendiri menafsir bukan orang itu, bukan orang gila juga bukan sinting atau pencuri atau bahkan perampok kelas kakap. Cuman pakaiannya yang dibikin gila-gilaan dengan suara jadi-jadian.
Tapi, olah TKP gagal mesti berjam-jam di lakoni serdadu baju pramuka ini. Hanya bahasa “kami akan tindak lanjuti” keluar dari mulut army letanan satu dijajarannya pada ibu muda yang lagi tersedu-sedu.
Semua masa pun gubar membawa cerita yang mulai diduga aksi perampok misteri. Anak mereka mulai dijaga penuh hati-hati supaya tidak terulang kembali.
Xxxx
10 tahun berlalu, cerita mulia meredup. Polisi pun sudah membisu sementara masyarakat kota baru terus bersiaga. Mesti hilangnya fit telah berlalu.
Teman sebaya mulai tumbuh remaja, sementara ibu Ana tak menaruh pilu membayangi putri yang kini sudah mulai tidak ditau. Enjoi selalu mewarnai hidupnya. Meski ada gadis yang selalu mengunjungi dan menyapu halaman rumah yang menyebut diri dengan Ratu yang siap membantu. Yang sesekali kadang diajak ngobrol sama ibu ini yang selalu ujungnya menyamakan usia anaknya meski tidak tersisa poto kenangan untuk melepas rindu dan lara pada putrinya.
Ratu banyak tau tentang kehidupan ibu ini, mulai ditinggal suami pergi tanpa pamit kehilangan putri tanpa diratapi. Karena dia tau putrinya masih hidup dan selamat.
“Selamat…sore”, sapa lelaki muda dari balik pagar. Ibu Ana terperangah bergegas menuju ke pemuda itu sambil berucap “abang telah pulang”.
Ia pun mengadu ke Ratu, “ini suami ibu, dia tealah pergi merantau 15 tahun silam, dua hari sebelum kepergian Fitri”.
“Apa”, lelaki itu bengong.. “Fitri pergi, pergi ke mana?” Tanya balik ke isterinya.
“ia, bang…Fitri pergi dibawa orang” sambil ia tersenyum ke arah Aldi yang telah 13 tahun mengawininya.
“ya, udah….ayok kita masuk”. Ajaknya. “Nanti tak ceritaian panjang lebar, Fitri telah betul-betul pergi”. Ucap lelaki ini gesit.
“Tunggu”, Rutu menghentikan langkah mereka. “Aku tau semuanya”. Membuat mereka terperangah, dan mendelik dengan bahasa terbata-bata “ apa urusanya kamu”.
“urusan ku”, Ratu meniru……..
“hari ini aku menutut tanggungjawab kalian sebagai orang tua. “aku terlantar 10 tahun ditengah kehidupan kota”. Tubuh ku bak danging busuk, terlempar diselokan-selokan kota tak ubahnya sampah. Selam 10 tahun itu, aku hidup dari kerjaan menjajankan kehormatan ku. Lantas, kamu hanya terdiam dalam kebisuan, tanpa ada beban kamu punya anak yang terlantar”. Ia terdiam…..mengambil nafas dengan lega.
“ maaf, aku mungkin tak banya bicara, cukup sudah derita kita bertiga, tinggal menunggu hakim tuhan”.
Dor….dor…… sosok dua tubuh yang berdiri didepannya tiba-tiba terkapar, tertembus peluru yang dilepas dari pistol yang ditodongkan.
“maaf bu, pak, kita tunggu siapa yang benar dan siapa yang salah. Aku anak mu fitri”. Dan mengarahkan pucuk pestol ke kepalanya. Doooooor.
* Pegiat Diskusi dan Kontributor KaPeKa-Jarik Mataram
3 | tika
24 June 2009 at 12:23
mat kenal admin infonya bagus dan ada info lebih bagus manatau rejeki sebelum ketingalan…
| tika on Hakim Tuhan | |
| Islamic Institute Fo… on Hakim Tuhan | |
| amiy on Hakim Tuhan | |
| amiy on Sedikit tentang KPK | |
| amiy on Sedikit tentang KPK |
| S | M | T | W | T | F | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | |
| 7 | 8 | 9 | 10 | 11 | 12 | 13 |
| 14 | 15 | 16 | 17 | 18 | 19 | 20 |
| 21 | 22 | 23 | 24 | 25 | 26 | 27 |
| 28 | 29 | 30 | 31 | |||
Theme: Albeo by Design Disease.
12 December 2008 at 17:23
juleid………. antum luar biasa ya……….. tingkatkan, anda kok berubah jadi cerpenis tapi gak apa-apalah yang penting kita mau menulis. saya segera ikutan memgisi blog ini biar tambah ramai…………………..thank u coy………….